Sekolah Alkitab Batu (SAB) adalah lembaga pelatihan dan belajar Alkitab sejak tahun 1956 dengan tujuan melatih calon pendeta/gembala potensial dan tenaga-tenaga misionaris untuk membangun gereja-gereja lokal yang kuat di dalam negeri maupun luar negeri, sesuai dengan Amanat Agung Kristus.
SAB adalah salah satu sarana untuk membangun Tubuh Kristus dengan suasana spiritual yang kuat dan kemurnian doktrin, di mana setiap siswa akan dimuridkan dan setelah dilengkapi, mereka akan dilepaskan ke dalam pelayanan.
Sekolah Alkitab Batu (SAB) berkomitmen menawarkan program praktis dalam pelatihan theologi, sehingga membekali tiap siswa dalam aspek doktrin dan pelayanan terapan.
Kami berusaha memenuhi kebutuhan belajar siswa dan memaksimalkan potensi tiap siswa sehingga menghasilkan hamba Tuhan yang kompeten menjawab tantangan jaman, serta membina tiap siswa menjadi pelayan Kristus berkarakter hamba bagi masyarakat luas.
Sekolah Alkitab pertama Gereja Pantekosta di buka oleh seorang Penginjil Pdt. Willian West Patterson di Surabaya, Jawa Timur pada bulan Januari 1935 yang di beri nama Nederlandsche Indie Bijble Institut (NIBI) bertempat di Jl. Embong Malang No. 63 Surabaya. NIBI telah mengahasilkan tujuh angkatan sampai pada permulaan tahun 1942. Beliau di bantu oleh beberapa hamba Tuhan, antara lain Pdt. F. G. Van Gessel dan Pdt. H. N. Runkat. Karena peristiwa Perang Dunia II, maka Pdt. W. W. Patterson harus kembali ke Amerika dan Nederlandsche Indie Bijble Institut (NIBI) harus “menghentikan kegiatannya” selama beberapa tahun.
Pada tahun 1947 di bawah pimpinan Pdt. F. G. Van Gessel, Sekolah Alkitab ini di buka kembali. Selanjutnya Pdt. R. Edmonson menerima tugas untuk memimpin Sekolah Alkitab ini. Beberapa waktu kemudian Pdt. R. Edmonson memindahkan Sekolah Alkitab yang dulu bernama NIBI ini ke Lawang, bertempat di Jl. Madukoro. Pada tahun 1952 Pdt. A. T. Bade tiba di Indonesia dan memimpin Sekolah Alkitab di Lawang ini selama empat tahun. Kemudian datanglah Pdt. C. J. McKnight sekeluarga dari Amerika ke Indonesia pada tahun 1954 untuk membantu pelayanan Pdt. A. T. Bade.
Pdt. C. J. McKnight untuk pertama kali datang ke Indonesia bersama isterinya adalah pada tahun 1941. Waktu itu mereka ditempatkan sebagai guru di Sekolah Alkitab, Jl. Embong Malang, Surabaya yang pada saat itu masih bernama NIBI. Karena terjadi Perang Dunia II, mereka terpaksa meninggalkan Indonesia untuk kembali ke Amerika dengan kapal laut. Pada tahun 1947 mereka kembali datang ke Indonesia bersama puteri mereka, Jo Ann serta keluarga Patterson. Karena panggilan Tuhan, keluarga Pdt. C. J. McKnight melayani di Timor-Nusa Tenggara dan terus ke Minahasa selama beberapa waktu. Pada tahun 1951 keluarga Pdt. C. J. McKnight kembali ke Amerika.
Pada bulan Februari 1956 datanglah Pdt. R. G. Brodland dengan isteri, Ibu Marian Brodland beserta anak mereka yang pertama, Karen Brodland. Pada saat itu Ibu Marian Brodland juga sedang mengandung anak mereka yang kedua. Pdt. C. J. McKnight menyambut mereka dan tinggal bersama di rumah tersebut. Pada saat itu kegiatan Sekolah Alkitab masih dilaksanakan di Lawang. Pdt. C. J. McKnight bersama Pdt. R. G. Brodland harus turun ke Lawang untuk mengajar. Pada awal pelayanannya sebagai guru di Sekolah Alkitab Lawang, Pdt. R. G. Brodland di bantu oleh ibu Pdt. F. J. Daniel untuk menerjemahkan, sebab ibu Pdt. F. J. Daniel sudah melayani di Sekolah Alkitab bersama orang tuannya, ibu Pdt. Grace Rose Samuel, yang sangat mencintai pelayanan di Sekolah Alkitab sejak masih bernama NIBI di Surabaya.
Dan, tibalah waktunya untuk Pdt. A. T. Bade harus cuti ke Amerika. Karena faktor usia dan lain sebagainya, maka pelayanan di Sekolah Alkitab diteruskan oleh Pdt. C. J. McKnight yang kemudian pada tahun 1956, beliau memindahkan kegiatan Sekolah Alkitab dari Lawang ke Batu, tepatnya di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Batu-Malang, sebab waktu itu kecamatan Batu masih termasuk wilayah Kabupaten Malang. Acara peletakan batu pertama berdirinya Sekolah Alkitab Gereja Pantekosta (SAGP) Batu ini diadakan pada tanggal 9 Mei 1956. Sekolah Alkitab yang berlokasi di Beji, Batu ini dimulai dengan sarana dan prasarana yang serba minim, bahkan bisa di kata sama sekali tidak memiliki apa-apa.
Namun, Pdt. R. M. Soeprapto-gembala jemaat GPdI Malang-memilki andil yang begitu banyak dalam menolong berdirinya Sekolah Alkitab di Beji, Batu ini. Dan oleh pertolongan beberapa anak Tuhan, Pdt. C. J. McKnight bisa mendapatkan kayu-kayu dengan harga yang sangat murah. Beliau membawa beberapa siswa untuk turut serta di mobilnya dari Lawang ke Beji untuk bekerja membangun Sekolah Alkitab di Beji, Batu. Di atas fondasi batu kali, didirikanlah tiang-tiang kayu dan dipasangkan gedeg (anyaman dari bambu) sebagai dinding kelas yang kemudian dilabur dengan kapur. Sangat sederhana. Di samping ruang kelas, dibangunkan asrama, yang berdinding gedeg (anyaman bambu). Untuk sarana penerangan digunakan lampu petromax dan lampu minyak tanah. Karena tidak ada air bersih, Pdt. C. J. McKnight menggunakan mobil miliknya (keluaran tahun 1955) yang beliau bawa dari Amerika, pergi ke Batu membawa kaleng-kaleng kosong untuk di isi air di pastori ibu Pdt. Daniel.
Pada acara Peletakan Batu Pertama diadakan kebaktian sederhana yang dihadiri Pengurus Majelis Pusat GPdI antara lain Pdt. SIP Lumoindong, Pdt. R. M. Soeprapto. Keesokan harinya ibu Marian Brodland harus ke rumah sakit di Malang untuk menjalani persalinan anak kedua, yaitu Sam Brodland yang lahir beberapa hari kemudian. Pada tahun yang sama, tepatnya pada bulan September 1956 dibuka Angkatan I (pada saat itu istilah yang digunakan : Kursus 1) yang diikuti 36 peserta didik. Sekolah Alkitab ini di mulai dengan sangat sederhana. Tetapi, sedikit demi sedikit, mulai membuat sumur dan menggunakan pompa yang masih manual. Keluarga Pdt. R. G. Brodland yang sudah dikaruniai 2 orang anak, memikirkan untuk tinggal di rumah sendiri, terpisah dengan keluarga Pdt. C. J. McKnight. Akhirnya mereka membeli sebidang tanah yang berlokasi di seberang jalan raya dari lokasi Sekolah Alkitab. Oleh kemurahan Tuhan melalui jasa seorang yang berdarah Indo Belanda, Pdt. R. G. Brodland bisa mendapatkan kayu meranti merah dari Kalimantan yang sudah di rendam air selama 3 tahun. Kayu-kayu yang dibelinya itu sudah berbentuk papan-papan. Dengan bahan-bahan itu berdirilah sebuah rumah dengan 2 kamar, kamar mandi dan sebuah dapur.
Selama 2 tahun Pdt. C. J. McKnight memimpin di Sekolah Alkitab Beji, Batu dengan setia. Pada suatu saat, sementara Kursus III sedang berjalan, beliau harus pulang ke Amerika, tepatnya tanggal 10 Mei 1958. Rencananya beliau berada di Amerika hanya untuk 1 tahun, setelah itu kembali ke Indonesia. Tetapi di tengah masa cutinya itu Pdt. C. J. McKnight harus menggantikan pelayanan Pdt. James Apple sebagai Gembala Jemaat Bethel Temple. Maka tanggung jawab sebagai pimpinan Sekolah Alkitab ditanggungkan di atas bahu keluarga Pdt. R. G. Brodland. Dan sejak saat itu pimpinan Sekolah Alkitab di Beji-Batu dilanjutkan oleh Pdt. R. G. Brodland, didampingi isteri, ibu Marian L. Brodland.
Pada waktu masih kecil, ibu Marian L. Brodland pernah tinggal di Indonesia lebih kurang selama 10 tahun bersama orang tuanya, Pdt. W. W. Patterson pada waktu Pdt. W. W. Patterson memimpin NIBI di Surabaya. Campur tangan Tuhan begitu nyata bagi Sekolah Alkitab Batu. Oleh kemurahan Tuhan kampus Sekolah Alkitab ini makin diperluas sedikit demi sedikit. Ada saat-saat di mana keluarga Brodland cuti ke Amerika, namun Sekolah Alkitab tidak dibiarkan begitu saja. Kegiatan di Sekolah Alkitab bisa tetap berjalan dengan baik dan dipimpin sementara oleh Pdt. D. G Peterson (Kursus 5 dan 16) dan Pdt. W. W. Patterson Jr (Kursus 11).
Pada waktu Kursus 6 berjalan, keluarga Brodland selesai dari masa cuti, ada berkat besar bagi Sekolah Alkitab Gereja Pantekosta (SAGP) saat itu berupa 2 mesin diesel 5 KVA dari Amerika. Hal ini tentu saja sangat menyenangkan, sebab Kompleks SAB tidak lagi diterangi oleh lampu minyak tanah. Demikian juga bangunan yang terbuat dari dinding gedeg (anyaman bambu) di ganti dengan dinding dari batu bata dsb. Oleh kemurahan Tuhan semakin banyak lahan di sekitar SAGP yang dapat di beli dan menjadi milik SAGP yang kemudian bernama Sekolah Alkitab Batu-Gereja Pantekosta di Indonesia (SAB GPdI). Peserta didik yang semula hanya berjumlah puluhan menjadi ratusan.
Sekolah Alkitab Batu harus berjalan terus dan zaman semakin bertambah maju, semakin banyak pula yang dibutuhkan Sekolah Alkitab Batu. Mengingat hal itu, dibentuklah Dewan Penyantun SAB yang baru, yang begitu memperhatikan kemajuan pekerjaan Tuhan di Sekolah Alkitab. Dewan Penyantun yang baru terdiri dari beberapa hamba Tuhan maupun para professional yang memiliki beban dan sangat mencintai pekerjaan Tuhan di Sekolah Alkitab.